Jika pendidikan adalah sebuah proses belajar dan mengajar dalam sebuah wadah/ institusi pendidikan, bagaimana halnya dengan media interaktif atau program TV edukasi yang mengusung konsep edutainment?
A. PENDIDIKAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.
Bagi sebagian orang pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.”
1. Pendidikan di Indonesia

a. Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Dilengkapi fasilitas berupa ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, kantin, halaman, ruang kepala sekolah dan guru / dosen, dll. guna terlaksananya proses pendidikan.

Kelas Usia
Taman Kanak-Kanak
Kelompok bermain 4
Kelompok A 5
Kelompok B 6
Sekolah Dasar
Kelas 1 7
Kelas 2 8
Kelas 3 9
Kelas 4 10
Kelas 5 11
Kelas 6 12
Sekolah Menengah Pertama
Kelas 7 13
Kelas 8 14
Kelas 9 15
Sekolah Menengah Atas/Kejuruan
Kelas 10 16
Kelas 11 17
Kelas 12 18
Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah Tinggi/Universitas
Sarjana berbagai usia (selama kurang lebih 4 tahun)
Magister berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)
Doktor berbagai usia (selama kurang lebih 2 tahun)

b. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman Pendidikan Al Quran,yang banyak terdapat di setiap mesjid dan Sekolah Minggu, yang terdapat di semua gereja.
Selain itu, ada juga berbagai kursus, diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya. Program – program PNF yaitu Keaksaraan fungsional (KF); Pendidikan Kesetaraan A, B, C; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD); Magang; dan sebagainya Lembaga PNF yaitu PKBM, SKB, BPPNFI, dan lain sebagainya.
c. Pendidikan informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.
2. Manfaat dan Fungsi Belajar di Institusi Pendidikan

  • Melatih Kemampuan Kemampuan Akademis Anak (Biar Pintar). Dengan melatih serta mengasah kemampuan menghafal, menganalisa, memecahkan masalah, logika, dan lain sebagainya maka diharapkan seseorang akan memiliki kemampuan akademis yang baik.
  • Menggembleng dan Memperkuat Mental, Fisik dan Disiplin. Dengan mengharuskan seorang siswa atau mahasiswa datang dan pulang sesuai dengan aturan yang berlaku maka secara tidak langsung dapat meningkatkan kedisiplinan seseorang dan menguatkan mental dan fisik seseorang menjadi lebih baik.
  • Memperkenalkan Tanggung Jawab. Tanggung jawab seorang anak adalah belajar di mana orangtua atau wali yang memberi nafkah.
  • Membangun Jiwa Sosial dan Jaringan Pertemanan. Banyaknya teman yang bersekolah bersama akan memperluas hubungan sosial seorang siswa. Tidak menutup kemungkinan di masa depan akan membentuk jaringan bisnis dengan sesama teman di mana di antara sesamanya sudah saling kenal dan percaya.
  • Sebagai Identitas Diri. Lulus dari sebuah institusi pendidikan biasanya akan menerima suatu sertifikat atau ijazah khusus yang mengakui bahwa kita adalah orang yang terpelajar, memiliki kualitas yang baik dan dapat diandalkan.
  • Sarana Mengembangkan Diri dan Berkreativitas. Seorang siswa dapat mengikuti berbagai program ekstrakurikuler sebagai pelengkap kegiatan akademis belajar mengajar agar dapat mengembangkan bakat dan minat dalam diri seseorang. Semakin banyak memiliki keahlian dan daya kreativitas maka akan semakin baik pula kualitas seseorang.

B. KONSEP EDUTAINMENT (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
Proses pembelajaran yang menyenangkan dapat dijadikan sebagai suatu hiburan, dan bukan lagi menjadi momok yang menakutkan bagi peserta didik. Sehingga kemasan pembelajaran yang menarik pastilah akan mendapat perhatian yang serius dari para peserta didik. Dalam hal ini edutainment berupaya agar pembelajaran yang terjadi berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Sebab konsep ini menawarkan sebuah perpaduan dua aktifitas yaitu ‘pendidikan’ dan ‘hiburan’.
Banyak istilah yang digunakan sejalan dengan konsep tersebut, antara lain ; “PAKEM” adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Disamping metodologi pembelajaran dengan nama atau sebutan “PAKEM”, muncul pula nama yang dikeluarkan di daerah Jawa Tengah dengan sebutan “PAIKEM Gembrot” dengan kepanjangan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Dan di Jayapura muncul pula sebutan “Pembelajaran MATOA” (diambil dari buah Matoa), kepanjangan Menyenangkan Atraktif Terukur Orang Aktif, yang artinya Pembelajaran yang menyenangkan, Guru dapat menyajikan dengan atraktif/menarik dengan hasil terukur sesuai yang diharapkan siswa (orang) belajar secara aktif.
1. Hakekat Edutainment
Edutainment adalah akronim dari “education plus entertainment”. Dapat diartikan sebagai program pendidikan atau pelatihan yang dikemas dalam konsep hiburan sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap peserta didik hampir tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang diajak untuk belajar atau untuk memahami nilai-nilai (value) setiap individu.
Proses pembelajaran merupakan interaksi edukatif melalui beberapa proses yaitu Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara)
Dengan memperhatikan beberapa proses tersebut, siswa sebagai peserta didik telah dijadikan sebagai subjek dalam proses pembelajaran, dengan kata lain siswa adalah sebuah unsur pokok dan sentral, bukan unsur pendukung dan tambahan. Dan guru sebagai pengajar tidak sepenuhnya mendominasi kegiatan pembelajaran, melainkan membantu menciptakan kondisi yang kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreatifitasnya melalui kegiatan belajar.
Lain dari pada itu, di dalam proses pembelajaran, yang selalu terdiri dari 3 (tiga) komponen penting yang saling terkait satu sama lain, yaitu materi yang akan diajarkan, proses mengajarkan materi, dan hasil dari proses pembelajaran yang membentuk lingkungan pembelajaran. Akan tetapi dalam perjalanan prosesnya, sering didapati kesenjangan dalam pembentukan lingkungan pembelajaran tersebut, terutama pada kuranganya pendekatan yang benar dan efektif dalam menjalankan proses pembelajaran. Sering kali para guru masih terpaku pada materi dan hasil pembelajaran dan juga disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai, menyusun materi apa saja yang hendak diajarkan, dan merancang alat evaluasi. Sedangkan hampir tak pernah memikirkan bagaimana mendesain proses pembelajaran secara baik agar bisa menjembatani antara materi dan hasil pembelajaran.
Munculnya konsep edutainment, yang mengupayakan proses pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, telah membuat suatu asumsi bahwa : pertama, perasaan positif (senang/gembira) akan mempercepat pembelajaran, kedua, jika seorang mampu menggunakan potensi nalar dan emosi secara jitu, maka ia akan membuat loncatan prestasi belajar yang tidak terduga sebelumnya, ketiga, bila setiap pembelajar dapat dimotivasi secara tepat dan diajar dengan cara yang benar, cara yang menghargai gaya belajar dan modalitas mereka, mereka semua akan dapat mencapai hasil belajar yang optimal.
Dari beberapa permasalahan di atas, hakekat edutainment adalah upaya mengembalikan kondisi peserta didik sesuai dengan hakekat diri peserta didik sebagai manusia, dengan meyakininya bahwa setiap peserta didik memiliki potensi diri yang dapat ditumbuhkembangkan dengan proses pembelajaran yang dijalaninya, memotivasi setiap peserta didik untuk dapat menggunakan modalitas belajar mereka sehingga menjadikannya manusia pembelajar.
C. MENGEMAS KONSEP EDUTAINMENT DALAM PENDIDIKAN FORMAL
1. Teori-teori Belajar Bernuansa Edutainment
Teori-teori belajar yang bernuansa edutainment banyak dibahas pada berbagai macam literatur, dan beberapa teori yang sesuai dengan konsep edutainment antara lain :

  • Teori pembelajaran aktif. Teori ini menyatakan bahwa belajar hendaknya melibatkan multiindera dan dilaksanakan dengan menggunakan variasi metode pembelajaran. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan aktivitas belajar, baik dalam mempelajari gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.
  • Teori belajar akselerasi. Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran itu harus dirancang agar berlangsung secara tepat, menyenangkan, dan memuaskan. Hal ini memberikan tuntutan kepada guru untuk menggunakan konsep belajar berbasis aktivitas, yakni pembelajaran dengan melibatkan adanya pergerakan fisik secara aktif ketika belajar, memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Ada 4 model belajar yang saling terkait dengan modalitas belajar yaitu ;
  1. Somatic : learning by moving and doing.
  2. Auditory : learning by talking and hearing.
  3. Visual : learning by observing and picturing.
  4. Intellectual : learning by problem solving and reflecting.
  • Teori revolusi belajar. Pada teori ini, lebih menekankan pada suasana yang kondusif, yakni suasana relaks, tidak tegang, dan bebas dari tekanan. Hal ini disebut juga dengan lingkungan belajar bebas resiko. Jadi, suasana belajar yang menyenangkan merupakan kunci utama bagi individu untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dalam proses belajar. Lain dari pada itu terdapat 6 prinsip kunci yang jika dikelola dan dilakukan dengan baik maka siswa akan dapat belajar lebih cepat, singkat dan mudah. Keenam prinsip itu adalah menciptakan kondisi terbaik untuk belajar, memahami kunci presentasi yang sukses, memaksimalkan kerja memori, mengekpresikan hasil belajar, mempraktikkan, meninjau ulang, mengevaluasi, dan merayakan.
  • Teori belajar quantum. Penekanan teori ini terdapat pada pencapaian ketenangan dan berfikiran positif sebelum belajar. Prinsip ini dibangun dari konsep triune, yang menjelaskan bahwa setiap informasi yang memasuki otak menuju ke otak tengah yang berfungsi sebagai pengarah, sehingga jika informasi tersebut diputuskan penting akan dialihkan kepada otak berfikir sehingga seorang dapat belajar dan mengingat dengan baik.
  • Teori belajar kooperatif. Teori ini berdasar pada konsep pembelajaran yang berdasarkan pada penggunakan kelompok-kelompok kecil siswa, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama untuk memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing melkukan pembelajaran.  Dengan demikian pembelajaran kooperatif akan terdapat 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu : saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kegiatan tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.
  • Teori Kecerdasan Majemuk. Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa ada keberagaman kecerdasan otak yang meliputi kecerdasan verbal/linguistik, musikal/ritmis, logis/matematis, visual/spasial, jasmaniah/kinestetik, intrapersonal/interpersonal, dan naturalis. Jadi dengan keberagaman kecerdasan manusia, menuntut guru untuk merancang berbagai aktivitas yang menggabungkan sebanyak mungkin jenis kecerdasan. Dan guru akan membantu siswa dalam mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajarnya, sekaligus memberinya lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan kecrdasan diri mereka.

2. Edutainment Sebagai Metode Pembelajaran.
Adapun penerapan dari konsep pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur datau edutainment, selayaknya kepada para guru untuk memperhatikan modalitas belajar siswanya. Sehingga seorang guru harus memiliki berbagai macam metode dan strategi untuk dapat mewakili secara keseluruhan akan keberagaman modalitas belajar siswanya. Akan tetapi pada dasarnya, sebuah proses pembelajaran akan berlangsung baik jika berada dalam kondisi yang baik dan menyenangkan. Proses pembelajaran seharusnya diterapkan dengan memenuhi aspek berikut :

  • Memberikan kemudahan dan suasana gembira. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan suasana akrab antara guru dan siswa serta antar siswa yang satu dengan yang lain. Dan agar keakraban tersebut dapat terjalin tentunya harus dengan mengadakan komunikasi yang ramah dalam suasana belajar dengan menggunakan ucapan dan perilaku yang halus dan lembut. Sehingga dapat memperlakukan siswa dengan penuh kasih sayang, dan suasana keakraban tersebut dapat terjadi pula dengan adanya perasaaan gembira yang ditimbulkan dari sedikit gurau dan canda.
  • Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
  1. Memilih waktu yang tepat dan memperhatikan keadaan pembelajar.
  2. Mengajar dengan selektif dan disesuaikan dengan peserta didik.
  • Menarik minat. Menggugah minat anak didik diperlukan pembukaan yang menarik dalam langkah-langkah mengajar agar perhatian dan minat mereka bisa terfokus kepada materi yang akan disampaikan. Upaya untuk menarik perhatian dapat dilakukan dengan cara berikut ;
  1. Melakukan komunikasi terbuka, yakni guru mendorong siswanya untuk membuka diri terhadap segala hal atau bahan pelajaran yang di sajikan, sehingga dapat menjadi apersepsi dalam pikirannya.
  2. Memberikan pengetahuan baru.
  3. Memberikan model perilaku yang baik.
  • Menyajikan materi yang relevan. Menunjukkan bahwa materi pelajaran itu relevan dan penting bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
  1. Memvisualisasikan tujuan pembelajaran.
  2. Meyakinkan peserta didik akan pentingnya materi.
  3. Mengulang penjelasan untuk memperkuat materi yang disampaikan.
  • Melibatkan emosi positif dalam pembelajaran. Seperti halnya teori pembelajaran quantum, keterlibatan emosi positif dalam pembelajaran seperti rasa senang akan berpengaruh pada keberhasilan pembelajaran.
  • Melibatkan semua indra dan pikiran. Proses pembelajaran, seyogyanya bersifat menyeluruh, dengan aplikasi fisik dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Sebab belajar berdasarkan aktivitas, secara umum lebih efektif dari pada yang didasarkan pada presentasi.
  • Menyesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa.
  • Memberikan pengalaman sukses.
  • Merayakan hasil

D. PENUTUP

Pembelajaran akan dapat berlangsung dengan baik hingga mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, haruslah memperhatikan beberapa aspek yang akan mendudkung keberhasilannya. Yang antara lain adalah ‘Proses pembelajaran’, yang mana dalam proses tersebut terjadi interaksi langsung antara guru, siswa dan materi. Sedangkan ketentuan keberhasilan dari sebuah pembelajaran tidaklah diukur dari hasil akhir yang berupa ujian, melainkan bagaimana guru dapat memberikan motivasi penuh terhadap siswanya agar dapat menumbuhkembangkan serta mengarahkan potensi yang dimilikinya sehingga tercipta suasana belajar dalam dirinya karena tercipta suasana yang kondusif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran. Dan keberhasilan dari edutainment akan dapat diraih jika seorang guru mempunyai kualitas kepribadian yang antara lain :
Adanya kepedulian terhadap siswa dan proses penyampaian bahan ajar.
Mampu mengembangkan kreatifitas mengajarnya.
Keberanian untuk menempuh resiko, tidak merasa takut akan menyalahi asumsi-asumsi pembelajaran yang telah mapan. Berani mengambil langkah-langkah baru untuk dicoba, dan senantiasa terbuka terhadap hal-hal baru serta senantiasa siap untuk belajar.
Untuk membantu pembelajar meraih sukses dalam setiap pembelajaran, hal yang bisa dilakukan oleh guru adalah : menyajikan materi pelajaran dengan sajian multisensori yang dapat ditangkap oleh keragaman modalitas belajar siswa, membuat kelompok-kelompok kecil sebagai pemantapan belajar dan kerjasama komunikatif antar siswa, serta memberikan tugas perseorangan sebagai aplikasi kepribadian masing-masing siswa.
Bagaimana pun juga, peran seorang pendidik dalam proses pembelajaran sangat diperlukan, sebab media yang menyajikan konsep edutainment hanyalah sebatas perangkat  jika tidak diarahkan untuk diolah dan diproses menjadi pola berpikir kritis.

Teori-teori belajar yang bernuansa edutainment banyak dibahas pada berbagai macam literatur, dan beberapa teori yang sesuai dengan konsep edutainment antara lain :

a. Teori pembelajaran aktif. Teori ini menyatakan bahwa belajar hendaknya melibatkan multiindera dan dilaksanakan dengan menggunakan variasi metode pembelajaran. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan aktivitas belajar, baik dalam mempelajari gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

b. Teori belajar akselerasi. Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran itu harus dirancang agar berlangsung secara tepat, menyenangkan, dan memuaskan. Hal ini memberikan tuntutan kepada guru untuk menggunakan konsep belajar berbasis aktivitas, yakni pembelajaran dengan melibatkan adanya pergerakan fisik secara aktif ketika belajar, memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Ada 4 model belajar yang saling terkait dengan modalitas belajar yaitu ;

  • · Somatic : learning by moving and doing.
  • · Auditory : learning by talking and hearing.
  • · Visual : learning by observing and picturing.
  • · Intellectual : learning by problem solving and reflecting.

c. Teori revolusi belajar. Pada teori ini, lebih menekankan pada suasana yang kondusif, yakni suasana relaks, tidak tegang, dan bebas dari tekanan. Hal ini disebut juga dengan lingkungan belajar bebas resiko. Jadi, suasana belajar yang menyenangkan merupakan kunci utama bagi individu untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dalam proses belajar. Lain dari pada itu terdapat 6 prinsip kunci yang jika dikelola dan dilakukan dengan baik maka siswa akan dapat belajar lebih cepat, singkat dan mudah. Keenam prinsip itu adalah menciptakan kondisi terbaik untuk belajar, memahami kunci presentasi yang sukses, memaksimalkan kerja memori, mengekpresikan hasil belajar, mempraktikkan, meninjau ulang, mengevaluasi, dan merayakan.

d. Teori belajar quantum. Penekanan teori ini terdapat pada pencapaian ketenangan dan berfikiran positif sebelum belajar. Prinsip ini dibangun dari konsep triune, yang menjelaskan bahwa setiap informasi yang memasuki otak menuju ke otak tengah yang berfungsi sebagai pengarah, sehingga jika informasi tersebut diputuskan penting akan dialihkan kepada otak berfikir sehingga seorang dapat belajar dan mengingat dengan baik.

e. Teori belajar kooperatif. Teori ini berdasar pada konsep pembelajaran yang berdasarkan pada penggunakan kelompok-kelompok kecil siswa, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama untuk memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing melkukan pembelajaran.  Dengan demikian pembelajaran kooperatif akan terdapat 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu : saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kegiatan tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

f. Teori Kecerdasan Majemuk. Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa ada keberagaman kecerdasan otak yang meliputi kecerdasan verbal/linguistik, musikal/ritmis, logis/matematis, visual/spasial, jasmaniah/kinestetik, intrapersonal/interpersonal, dan naturalis. Jadi dengan keberagaman kecerdasan manusia, menuntut guru untuk merancang berbagai aktivitas yang menggabungkan sebanyak mungkin jenis kecerdasan. Dan guru akan membantu siswa dalam mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajarnya, sekaligus memberinya lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan kecerdasan diri mereka.

Teori-teori belajar yang bernuansa edutainment banyak dibahas pada berbagai macam literatur, dan beberapa teori yang sesuai dengan konsep edutainment antara lain :

a. Teori pembelajaran aktif. Teori ini menyatakan bahwa belajar hendaknya melibatkan multiindera dan dilaksanakan dengan menggunakan variasi metode pembelajaran. Belajar membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar itu aktif, siswa melakukan aktivitas belajar, baik dalam mempelajari gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari.

b. Teori belajar akselerasi. Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran itu harus dirancang agar berlangsung secara tepat, menyenangkan, dan memuaskan. Hal ini memberikan tuntutan kepada guru untuk menggunakan konsep belajar berbasis aktivitas, yakni pembelajaran dengan melibatkan adanya pergerakan fisik secara aktif ketika belajar, memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Ada 4 model belajar yang saling terkait dengan modalitas belajar yaitu ;

  • · Somatic : learning by moving and doing.
  • · Auditory : learning by talking and hearing.
  • · Visual : learning by observing and picturing.
  • · Intellectual : learning by problem solving and reflecting.

c. Teori revolusi belajar. Pada teori ini, lebih menekankan pada suasana yang kondusif, yakni suasana relaks, tidak tegang, dan bebas dari tekanan. Hal ini disebut juga dengan lingkungan belajar bebas resiko. Jadi, suasana belajar yang menyenangkan merupakan kunci utama bagi individu untuk memaksimalkan hasil yang akan diperoleh dalam proses belajar. Lain dari pada itu terdapat 6 prinsip kunci yang jika dikelola dan dilakukan dengan baik maka siswa akan dapat belajar lebih cepat, singkat dan mudah. Keenam prinsip itu adalah menciptakan kondisi terbaik untuk belajar, memahami kunci presentasi yang sukses, memaksimalkan kerja memori, mengekpresikan hasil belajar, mempraktikkan, meninjau ulang, mengevaluasi, dan merayakan.

d. Teori belajar quantum. Penekanan teori ini terdapat pada pencapaian ketenangan dan berfikiran positif sebelum belajar. Prinsip ini dibangun dari konsep triune, yang menjelaskan bahwa setiap informasi yang memasuki otak menuju ke otak tengah yang berfungsi sebagai pengarah, sehingga jika informasi tersebut diputuskan penting akan dialihkan kepada otak berfikir sehingga seorang dapat belajar dan mengingat dengan baik.

e. Teori belajar kooperatif. Teori ini berdasar pada konsep pembelajaran yang berdasarkan pada penggunakan kelompok-kelompok kecil siswa, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama untuk memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing melkukan pembelajaran.  Dengan demikian pembelajaran kooperatif akan terdapat 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu : saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, kegiatan tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

f. Teori Kecerdasan Majemuk. Teori ini dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa ada keberagaman kecerdasan otak yang meliputi kecerdasan verbal/linguistik, musikal/ritmis, logis/matematis, visual/spasial, jasmaniah/kinestetik, intrapersonal/interpersonal, dan naturalis. Jadi dengan keberagaman kecerdasan manusia, menuntut guru untuk merancang berbagai aktivitas yang menggabungkan sebanyak mungkin jenis kecerdasan. Dan guru akan membantu siswa dalam mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses belajarnya, sekaligus memberinya lebih banyak variasi dan kesenangan, serta mengembangkan kecerdasan diri mereka.

»

  1. arief mengatakan:

    Saya belum dapat contoh praktek edutainment yang langsung bisa diterapkan

  2. yolandamanao mengatakan:

    permisi,maaf sy CP untuk jurnal tesis,apakah ada contoh persiapan pembelajaran yg bs diterpkan? tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s