A. Pendahuluan

Beberapa definisi yang sifatnya formal menyebutkan bahwa, teknologi adalah hasil dari pengetahuan ilmiah yang teroganisir dan diaplikasikan secara sistematis ke dalam hal hal yang bersifat praktis. Secara eksplisit, teknologi dianalogikan sebagai ’hardware’ di mana manusia sebagai pengguna dan teknologi sebagai alat yang digunakan. Namun, selanjutnya perkembangan di bidang teknologi menyebutkan bahwa teknologi lebih dari hanya sekedar ’hardware’. Teknologi merupakan ’liveware’ karena organisme-organisme hidup setidaknya bergantung pada teknologi.

Teknologi berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika hampir selalu menjadi pioner dalam hal perkembangan teknologi. Berbagai produk teknologi diciptakan dengan maksud memudahkan pekerjaan manusia. Produk-produk hasil perkembangan teknologi tersebut diciptakan di sejumlah negara dan dipublikasikan ke pasar dunia.

Berikut contoh kemajuan teknologi:

  • Pada awal tahun 1600, penemuan seperti mesin cetak, kompas magnetis, mesin uap, lampu elektrik, telepon, dan lain-lain. Berbagai tipe mesin bermunculan untuk menunjukkan perkembangan yang bertahap dalam jangka waktu yang lama.
  • Multimedia, yaitu penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat bernavigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan, game, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Kemudian perkembangan multimedia mencakup juga kinetik (gerak) dan bau yang merupakan konsumsi indra penciuman melalui aplikasi pada pertunjukan film 3 dimensi yang digabungkan dengan gerakan pada kursi tempat duduk penonton. Bau mulai menjadi bagian dari multimedia sejak ditemukan teknologi reproduksi bau melalui telekomunikasi. Dengan perangkat input pendeteksi bau, seorang operator dapat mengirimkan hasil digitizing bau tersebut melalui internet dengan output berupa bau yang mirip. Dengan menganalogikan dengan printer, alat ini menjadikan feromon-feromon bau sebagai pengganti tinta.

B. Teknologi  VS Pendidikan Indonesia

Proses pendidikan di Indonesia saat ini mengandung suatu ketertinggalan pola pendidikan dibandingkan negara lain karena prosesnya masih konvensional yang mengandalkan tatap muka antara pendidik dan yang dididik. Padahal penggunaan IT bukanlah suatu wacana yang asing di Australia. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Australia pada dasawarsa yang telah lalu dengan menetapkan kurikulum pendidikan yang memungkinkan siswa/mahasiswa dapat mengeksplore kemampuan semenjak SD sampai Perguruan Tinggi karena sistem pendidikan mereka sudah terintegrasi dengan infrastruktur IT.

Dengan melakukan perbandingan sistem pendidikan di Negara lain, mungkin pantas prestasi pendidikan Indonesia hanya menduduki peringkat 62 dari 130 negara dengan Education Development Index (EDI) sebesar 0.935 masih kalah dengan Malaysia (0.945) dan Brunei Darusalam (0.965) sumber : UNESCO

Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia, karena dengan adanya internet, siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan kapan dan di mana saja. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi, dengan Pemberdayaan ICT dalam Proses Belajar Mengajar yang menjelaskan pembelajaran secara virtual seperti chatting journal, email dan sebagainya. Ada lima cara yang dilakukan dalam tahap pembelajaran virtual, yaitu, kurikulum digital, metodologi belajar, proffesional developmental, teknologi, dan konektivitas. Ia mengharapkan lima cara ini dapat mulai digunakan di universitas-universitas di Indonesia.

C. Hambatan Implementasi Infrastruktur IT  untuk Pendidikan di Indonesia

Walaupun internet sudah dirasakan manfaatnya, tetapi keberadaanya tidak merata untuk semua lapisan institusi pendidikan, sehingga memunculkan terjadinya digital divide (kesenjangan digital). Menurut data Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Aplikasi presentase penggunaan internet adalah 30% pada pendidikan tingkat atas, 6% pada penelitian institusi.

Kurangnya infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasayarat implementasi IT untuk pendidikan di Indonesia menjadi hambatannya. Disamping itu, penetrasi PC (Personal Computer) di Indonesia masih rendah, biaya untuk melakukan akses internet masih mahal, hanya institusi tertentu saja yang sudah memiliki fasilitas memadai yang dapat mengakses internet. Disini peran pemerintah sebagi pembuat kebijakan mampu membuat iklim yang kondusif dalam pemerataan infrastruktur IT di Indonesia. Terbukti dengan pendanaan di bidang pendidikan masih sekitar 11,2% dari yang seharusnya 20% dari APBN. Jauh lebih kecil dibanding dengan Negara Australia sebesar 94% bersumber dari pemerintah baik dari commonwealth maupun Negara bagian.

Untuk mejawab berbagai tantangan dalam dunia bisnis, dibutuhkan organisasi Teknologi Informasi/TI internal atau IT Infrastructure (Infrastruktur Teknologi Informasi) yang handal. Di mana menurut analis, 70% dari budget IT dihabiskan di infrastruktur, seperti pengadaan server, sistem operasi, perangkat jaringan dan perangkat penyimpanan data. Berdasarkan data tersebut, bisa dikatakan infrastruktur TI merupakan aset penting perusahaan yang harus dikelola dan dikendalikan secara efisien, sesuai dengan prioritas bisnis agar dapat mencapai harapan.

D. Teknologi , Budaya, dan Kemiskinan

Membicarakan teknologi lebih jauh, berarti membicarakan beberapa sikap yang membatasi pandangan seseorang mengenai teknologi. Sistem teknologi meliputi manusia dan mesin. Tingkatan keduanya adalah setara. Namun pada kenyataannya manusia, karena merasa dirinya sebagai ’user’ dari mesin, seringkali memposisikan diri lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan budaya yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah mesin produk teknologi mengalami kerusakan, seringkali yang disalahkan adalah mesin itu sendiri. Mesin yang buruk, tidak tahan lama, kurang canggih, dan alasan lainnya. Manusia sering mengesampingkan alasan bahwa mesin itu kurang dirawat oleh manusia. Manusia cenderung terfokus pada aspek teknik dari setiap masalah yang bersifat praktis. Dan mereka lalu mulai berfikir tentang kemampuan luar biasa lainnya yang dapat diciptakan melalui teknologi. Manusia makin mengharapkan teknologi dapat menyelesaikan setiap masalah.Yang perlu disadari, teknologi tidak selamanya dipuja dan dibutuhkan begitu saja oleh masyarakat di seluruh dunia. Teknologi juga harus diiringi dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan. Menjamurnya teknisi-teknisi juga tidak akan berpengaruh jika mayoritas penduduknya tidak terpelajar. Dengan demikian, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan perkembangan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.

Persaingan teknologi di dunia barat yang semakin sengit juga berdampak pada Indonesia. Kembang-kempisnya Indonesia tergantung kepada negara-negara luar karena masih terjajah dalam hal ekonomi dan teknologi. Walaupun demikian, ironisnya banyak orang yang bangga dengan apa yang dimilikinya sehingga ia tidak peduli terhadap tetangga dan individualisme menjadi ciri khas mereka. Akibatnya, di samping krisis ekonomi juga krisis mental dan paradigma yang ditimbulkan karena penyalahpahaman makna serta fungsi teknologi. Demikian juga sering kita saksikan bersama, kerukunan/kebersamaan, kerkompakan dan kegotongroyongan nyaris tidak terlihat lagi. Tradisionalisme dianggap tabu dan layak dimuseumkan. Jika hal tersebut sudah meniadi kebiasaan (folkways) maka step by step negara akan segera kehilangan identitasnya.

Di satu sisi teknologi besar manfaatnya bagi kita, namun di sisi yang lain mudharatnyapun sering kita rasakan. Keduanya itu bersifat relatif tergantung yang menggunakannya. Jika yang menggunakan didasarkan pada fungsi yang sebenarna, hasilnyapun akan memuaskan. Tapi sebaliknya jika yang menggunakan hanya asal-asalan dalam artian tidak berdasar pada fungsi yang sebenarnya. Maka teknologi hanya akan menjadi momok bagi kita.

E. Dampak Perkembangan Teknologi

Bidang Ekonomi

  • Pertumbuhan telekomunikasi sebesar 1% secara langsung atau tak langsung memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3% (ITU).
  • Peningkatan aktivitas perdagangan akibat pertumbuhan telekomunikasi
  • Penyerapan Tenaga Kerja ( padat karya )

Bidangan Telekomunikasi & Budaya

  • Internet pemicu antisocial behavior dan anonymous karena tidak bertatap muka secara langsung
  • Budaya kita tidak/kurang belajar dari sejarah yang menyukai jalan pintas

Bidang Sosial Budaya

  • Manusia merupakan pengubah (subjek) dan sekaligus sasaran (objek) dari perubahan
  • Memudahkan aktivitas manusia
  • Penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial.
  • Teknologi tepat guna menjadi tidak popular

Bidang Budaya Birokrat

  • Budaya terbuka
  • Disiplin
  • Lisan menjadi tertulis
  • Hirarki menjadi jaringan
  • Berbagi Informasi agar tidak Gagap Teknologi
  • Loncatan budaya

Bidang Bisnis

  • e-Bisnis baru
  • Pangsa Pasar baru (new wave marketing)
  • Riset Pasar murah (media jejaring sosial)
  • 24 jam /7 hari
  • Ubiquitous: every one, every where & every time
  • Ancaman Global

Bidang Pendidikan

  • Dampak Positif : perubahan sarana belajar, kemudahan mendapat informasi dan bahan belajar, munculnya sarana belajar online (e-learning), luas jangkauan komunitas dan interaksi, knowledge sharing, peningkatan Social interactions, walaupun secara online, budaya dengar ke budaya menonton, sarana video, televisi, collaborative and participatory, belajar mandiri
  • Dampak Negatif : berkurangnya nilai kemanusiaan, jarangnya interaksi secara fisik, ikatan emosi dan penghargaan kepada guru akan berkurang, perubahan mental siswa karena pornografi melalui internet

F. Dukungan Regulasi untuk Membangun Komunitas Cerdas

Dari pengertian regulasi sendiri, masih banyak pihak yang berselisih. Yang sering dilakukan oleh pemerintah adalah menjadikan regulasi berisi larangan-larangan yang seharusnya dilakukan setiap pelaku IT. Padahal dari pandangan praktisi dan dunia industri, regulasi seharusnya mengatur, bukan sekedar melarang, bagaimana penerapan teknologi dilakukan. Sedangkan masyarakat umum, justru menjerit karena ternyata regulasi seharusnya berorientasi untuk memperjelas kontribusi penerapan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat.

Dampak dari ketidakjelasan ini salah satunya adalah permainan kepentingan pihak tertentu. Jika dari sudut pandang dunia industri pengaturan yang diharapkan pasti menyangkut cakupan bisnis mereka. Termasuk bagaimana persaingan dengan provider lainnya, dan bagaimana keuntungan bisa mereka peroleh. Masyarakat tentunya menginginkan adanya kejelasan nasib mereka jika teknologi diterapkan. Misalnya saja bagaimana pemerintah masih setengah hati untuk menerapkan teknologi Voip, karena alasan berpengaruh negatif bagi industri telekomunikasi yang lain. Padahal masalahnya ada pada biaya yang murah, Voip jelas memiliki biaya lebih murah dibanding telepon yang umum digunakan saat ini. Seharusnya regulasi yang dibuat bisa mengatur penerapan teknologi Voip bagi telepon murah, agar masyarakat kelas bawah juga bisa menikmati teknologi.

Regulasi ICT tenyata tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang akan berkaitan di sana. Sampai dimana batasan ICT itu sendiri, masih sangat luas. Kalau dulu kita bisa saja mengartikan pertukaran suara (voice), lewat media tembaga. Tapi sekarang sudah semakin canggih. Tidak hanya suara, tapi disana juga ada data, yang bisa berarti image, document, music & video, dan banyak layanan lainnya. Dan tidak hanya itu, medianya pun sudah berkembang menggunakan frekuensi. Bahkan teknologi ini bisa saja terintegrasi melalui jaringan, perangkat lunak, dan perangkat elektronik lainnya. Sehingga pertanyaannya adalah bagian mana dari teknologi ini yang harus diatur dan bagaimana cara mengaturnya?

Perkembangan teknologi justru bisa terhambat karena tidak adanya regulasi. Dan ini sudah kita rasakan ketika pembahasan RUU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang dilakukan pemerintah dan DPR semakin berlarut-larut. Padahal RUU ITE itu sangat penting keberadaannya untuk mengatur transaksi elektronik yang sering kita lakukan di Internet.
Akibatnya Indonesia masih tidak bisa mengakses e-commerce untuk transaksi dunia, atau dengan kata lain kita belum bisa beli barang lewat internet.

Kondisinya saat ini, pemerintah selalu terlambat dalam melihat perkembangan teknologi. Dan memiliki respon yang lambat untuk bisa membuat regulasinya. Alasan SDM selalu menjadi kambing hitam permasalahan, walaupun saat ini pembahasan regulasi terkadang telah melibatkan masyarakat IT. Tapi tetap saja dengan pengetahuan yang minim dari SDM pemerintah tentang teknologi, ditambah lagi pembahasan yang dilakukan selalu berlarut-larut. Belum lagi para regulator terkesan mempolitisir aturan-aturan yang ada, demi
kepentingan politik atau bisnis.

Menjawab tantangan atau hambatan dalam implementasi infrastruktur IT untuk pendidikan di Indonesia perlu adanya solusi agar infrastruktur IT dalam hal ini internet dapat dirasakan oleh setiap lapisan institusi pendidikan. Adapun kebijakan tersebut antara lain :

  • Bebas lisensi untuk ISP (Internet Service Provider) bagi dinas pendidikan daerah/pusat
  • Tarif khusus untuk Jaringan Komputer Pendidikan
  • Free Hosting untuk Portal Pendidikan
  • Alokasi Frekuensi khusus (Wimax, WiFi) untuk jaringan internet agar dapat dijangkau oleh institusi yang masih terpencil
  • Tax Holiday, untuk kegiatan pengembangan sumber daya manusia
  • Penghapusan pajak bagi kegiatan penelitian
  • Seed Capital untuk konten pengembang bidang pendidikan dan penelitian dan pengembangan
  • Paket laptop murah untuk siswa/mahasiswa, optimalisasi dana CSR (Capital Social Responsibility)
  • Berbagai intensif seperti pendanaan khusus (seed capital), subsidi, keringanan perpajakan, dan lain-lain merupakan salah satu mekanisme bantuan pemerintah yang sangat efektif dalam menciptakan iklim agar kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi dapat tumbuh subur.
  • Telekomunikasi sebagai pemicu budaya perlu dicermati dengan bijaksana
  • Peran Pemerintah dalam menciptakan regulasi yang benar, bijak, dan melindungi masyarakat
  • Masyarakat sebagai konsumen perlu melakukan filter terhadap budaya teknologi telekomunikasi yang “tidak sesuai” dengan budaya Indonesia

G. Kesanggupan Indonesia menghadapi teknologi yang mudah diakses

Dengan infrastruktur IT yang memadai diharapkan menjadi sebuah kunci dalam mendukung proses pendidikan dan untuk mengembangkan kapasitas bangsa sehingga menciptakan pendidikan yang efektif dan efisien dalam penerapan kehidupan khususnya di bidang IT agar keberadaanya memudahkan kehidupan manusia. Jika kebutuhan ini sudah terpenuhi, mungkin ke depannya yang dibicarakan bukanlah pemenuhan ‘kuantitas’ tetapi ‘kualitas’ informasi.

Hal yang paling ampuh agar kita selalu cepat dan tanggap menyikapi perubahan adalah dengan belajar. Melalui proses pembelajaran, kita menjadi tahu apa yang sebelumnya tidak kita tahu, memahami apa yang sebelumnya tidak kita pahami, dan akhirnya menerima apa yang tadinya tidak kita terima. Bila kita sudah mengkondisikan diri kita untuk belajar, maka kita akan selalu siap menerima hal baru. Alangkah baiknya bila semua karyawan menyadari pentingnya belajar dan melakukannya secara mandiri.

Saya setuju dengan pernyataan belajar adalah kunci sukses sebuah perubahan. Mewujudkan kemandirian dalam hal belajar memang sulit bagi perusahaan. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa penerapan TI di banyak perusahaan mengalami banyak hambatan. Menumbuhkan kebiasaan belajar merupakan pekerjaan rumah bagi siapapun dalam perusahaan yang ingin menerapkan TI.

Meningkatkan minat belajar secara mandiri membantu pelaksanaan penerapan TI dalam perusahaan. Perusahaan yang memiliki kemampuan belajar dan mengubah apa yang dipelajari menjadi langkah perbaikan secara cepat dan terus menerus akan mampu menjadi pemimpin dalam kompetisi global. Cara berpikir yang terbuka dan positif terhadap perubahan, serta berorientasi ke depan membantu perusahaan untuk menjadi yang terdepan dan unggul.

Memang betul bahwa manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan inilah yang lalu harus ditutupi oleh teknologi. Bagaimana pun, kendali tetap sepenuhnya ada di tangan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan manusia tetap harus berada pada peringkat ke-satu, serta tidak hanya melakukan pemujaan terhadap teknologi tinggi belaka.

Kesimpulannya, bagi praktisi bisnis yang ingin menerapkan teknologi (tidak hanya terbatas pada TI), kita harus selalu mengimbangi perkembangan teknologi dengan pembangunan mental SDM. Misalnya dengan menggunakan management tools untuk Human Resources Development, yaitu: Performance Management, Team Building, Leadership, Supervisory Management, dan sebagainya, atau secara lebih fokus dapat menerapkan Change Management sehingga para karyawan mampu mengadaptasi perubahan lingkungan eksternal untuk mencapai tujuan internal baru.

One response »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s