Peran dan Pengaruh Konten Lokal dalam Proses Pendidikan

Perancangan, produksi, dan konsumsi (pengajaran dan pembelajaran) program interaktif

PENDAHULUAN

Proses pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran & latihan.

Selama proses pendidikan, ada konten yang disampaikan, yaitu ilmu dan pengetahuan (knowledge & insight) berupa suara, tulisan, grafik, baik diam maupun bergerak atau berbentuk audio visual lainnya yang disajikan dalam bentuk program yang dapat diciptakan, diubah, disimpan, disajikan, dikomunikasikan, dan disebarluaskan secara elektronik seiring berkembangnya teknologi pada media penyampaiannya (multimedia).

Konten tersebut dikemas sedemikian menarik dan interaktif sehingga dapat dengan mudah disampaikan dan dikonsumsi oleh manusia. Tidak hanya informasi, segala jenis budaya, nilai, dan idiologi akan dikonsumsi dengan menggunakan internet, TV, HP, dan majalah dengan mudahnya. Media itulah yang kini bisa mempengaruhi pola pikir dunia dengan mudah.

Meksipun demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa di antara setumpuk cita-cita dan selaksa harap dari manusia “pemuja” modernitas mengendap persoalan serius terkait standardisasi nilai. Manusia-manusia yang menamakan dirinya modern, tampak tidak lagi menyandarkan pola tindakan dan sikap pada sejumlah nilai kultural dan ideologi baku sebagaimana idealnya.

PENGARUH KONTEN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN

Ibarat sebuah mata uang yang memiliki dua sisi, perkembangan teknologi sebagai sarana pendukung membuat pendidikan mengalami perubahan baik negatif maupun positif, tergantung pemanfaatan dan perawatan yang dilakukan.

Acara bagus seperti Kick Andy, Mario Teguh dianggap terlalu berat untuk dikonsumsi oleh siswa Indonesia, sehingga hanya segelintir orang saja yang mengkonsumsinya. Berbeda dengan acara yang dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat seperti acara Opera Van Java yang merupakan acara komedi di Trans 7. Ide acara ini seperti pertunjukan wayang orang pada kebudayaan Jawa. Para wayang itu diperankan oleh beberapa pelawak terkenal, seperti Nunung Srimulat, Azis Gagap, dan Sule. Selain wayang, juga terdapat dalang yang diperankan oleh Parto Patrio serta para pemain gamelan dan sinden. Uniknya, hanya dalang yang mengetahui jalan ceritanya. Bintang tamu juga kerap ditampilkan pada tiap episodenya.

Walaupun ide dasarnya adalah pewayangan, namun cerita yang diangkat tak melulu cerita-cerita rakyat Indonesia, tapi bisa juga cerita dari negara lain, seperti Cinderella dan Sun Go Kong. Pada akhir acara, Ki Dalang Parto Patrio selalu mengucapkan pantun khas Opera Van Java yang berbunyi, “ Di sana gunung, di sini gunung, di tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa. Ketemu lagi di Opera Van Java… Yaa… Eeee…!”. Sangat menghibur dan mengangkat budaya lokal, namun terlalu memamerkan kekerasan sangat tidak mendidik dan dapat menyebabkan kriminalitas di usia muda, mengingat kata-kata candaan yang melampaui batas, cara menggoda wanita, ataupun adegan saling pukul menggunakan stereofoam yang bahkan dapat merusak lingkungan dan sangat mahal biaya produksinya.

Berbeda dengan 9 tahun yang lalu, ketika acara kuis memang menunjang pendidikan formal atau sebaliknya, sebut saja Kuis LG Prima di Indosiar, kuis Galileo Galilei di SCTV, Pesona Fisika di TVRI. Acar kuis lokal saat ini hanya sekedar hiburan dengan iming-iming hadiah saja, seperti Kuis Maju Terus Pantang Mundur di Trans TV, dll. Acara Are You Smarter Than Fifth Grader? pun lebih menonjolkan sisi hiburan dengan membandingkan kemampuan orang dewasa yang kebanyakan artis dengan siswa SD, tidak membuat semangat bekompetisi yang nyata.

Sebagai bangsa yang menghargai nilai-nilai kebersamaan dan kegotong-royongan dalam masyarakat, bentuk tayangan yang tersaji saat ini sangat mengganggu perkembangan kepribadian anak. Selain televisi, patut juga diperhatikan regulasi tayangan dalam bentuk permainan (games) yang merambah hingga ke telepon seluler. Jenis pendidikan massal seperti ini pasti akan meningkatkan “egoisme” siswa secara negatif dan menjurus ke individualisme yang akan berakibat serius pada keterpecahan keluarga dan struktur sosial, sehingga pada akhirnya akan meruntuhkan akar-akar budaya lokal yang solid dan alami. Karena itulah beberapa hasil riset tentang kekhawatiran pengaruh tayangan berbasis teknologi informasi terhadap pendidikan merekomendasikan langkah-langkah metodologis proses belajar mengajar agar menggunakan pendekatan holistik, pro-active social skills seperti resolusi konflik dan metode cooperative learning.

Langkah metodologis ini tentu saja harus diiukuti oleh beragam jenis pelatihan yang harus membekali guru agar lebih kreatif dan imajinatif dalam mengawal proses belajar mengajar anak-didik mereka. Kebijakan tentang pelatihan dan uji sertifikasi dalam rangka meningkatkan kualitas guru agar dapat bersaing dengan ragam jenis tayangan adalah sebuah keharusan. Bukan hanya pemetaan yang komprehensif tentang kapasitas guru secara akademis dan sosial-emosional, tetapi juga harus disertai dengan asesmen tentang dampak tayangan terhadap anak didik agar ada regulasi yang tepat dan benar tentangnya. Seperti program Si Entong di TPI, Cinta Fitri di SCTV yang tujuan awalnya adalah edutainment, yaitu mengajarkan untuk berbuat baik dan sabar, namun jika tidak diarahkan, siswa yang belum mampu berpikir lebih kritis akan dengan polosnya menelan mentah-mentah semua tayangan tersebut, padahal tidak semua yang disajikan benar-benar berdampak baik karena ada selalu saja ada tokoh jahat atau usil dalam setiap episodenya.

HARAPAN UNTUK KONTEN LOKAL

Konten adalah nyawa dari sebuah media, jika konten tidak ada, media tidak ada bedanya dengan jalanan lapang yang tidak dilalui oleh kendaraan apapun. Jadi media memang sudah seharusnya ikut aktif menggalakan konten lokal dan memberi penghargaan terhadap pihak-pihak yang telah memberi nyawa lokal.

Kekuatan teknologi komunikasi informasi yang dimiliki Indonesia saat ini adalah pada kreativitas dimana ladangnya ada pada bisnis konten. Kreativitas itu dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Jika ini berjalan, bisa menggerakkan ekonomi secara luas.

Singapura sudah mempraktikkan bagaimana menerapkan teknologi dalam kurikulum sekolah dasar. Siswa  kelas 4 SD sudah bisa membuat film animasi, melalui tahapan-tahapan yang sangat sederhana. Tetapi mereka didukung oleh fasilitas yang dahsyat, menggunakan MacBook dan sebagainya. Di Jakarta, pernah ada pelatihan untuk anak-anak jalanan dengan fasilitas seadanya. Komputer yang dipakai bahkan sebelum zaman pentium. Tetapi setelah tiga hari, ternyata siswa kita bisa juga menghasilkan gambar. Bagaimana jadinya kalau siswa kita diberi kesempatan belajar di Singapura dan sebaliknya?

Menurut Country Director Qualcomm Indonesia Harry K Nugraha, layanan internet akan terus tumbuh pesat di Indonesia. Layanan konten akan sangat dibutuhkan. Nanti akan banyak konten yang di-download atau di-upload melalui internet, terutama yang sifatnya user generated content.

Sebagai salah satu penguasa infrastruktur internet, Telkom juga menyatakan dukungannya terhadap industri konten lokal. Salah satunya melalui konten games. Banyak pengembang games hasil ciptaan orang Indonesia justru digunakan di luar negeri. Karena itu Telkom menyediakan konten games untuk pelanggan Speedy melalui Speedy Games, kata VP Public & Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia. Untuk memperkenalkan layanan yang menawarkan 130 games hasil kerjasama dengan perusahaan Valve, baru-baru ini Telkom menggelar event Speedy Games Championship di Bandung.

Kemudian, untuk pertama kalinya, Nokia menempatkan konten lokal buatan Indonesia dalam produk terbaru yang disebut-sebut sebagai flagship tahun ini, Nokia N97. Aplikasi KOMPAS.commenjadi konten pertama dan satu-satunya yang dimasukkan dalam setiap Nokia N97 yang terjual di Indonesia. Bahkan, widget aplikasi KOMPAS.comlangsung tampil dalam layar Nokia N97 begitu diaktifkan dengan ciri khas logo berupa huruf K dalam lingkaran berwarna oranye. Melalui widget tersebut, pengguna mendapatkan informasi berita terkini di KOMPAS.com yang akan ter-update secara otomatis selama ponsel tersambung ke internet.

Masa depan TV digital juga akan lebih baik di Indonesia. Namun, harapan mengenai konten tentang ke-Indonesia-an bisa lebih banyak ditampilkan, agar bukan hanya bangsa ini bisa lebih mengenal keragaman budayanya, tetapi juga bangsa-bangsa lain di dunia.

Satu pesan lagi yang penting untuk diingat, konten lokal yaitu konten berbahasa Indonesia dan dibuat oleh orang Indonesia, masih memiliki peluang sangat besar untuk berkembang seperti komik Lagak Jakarta, Benny & Mice. Jika kenyataannya saat ini kebanyakan belum berkembang, perlu dilihat lebih jeli apa penyebabnya. Bisa strategi promosi yang kurang tepat, packaging/ formatnya, atau konsistensi dan keseriusan pengelola mengupdate kontennya, seperti mengemas novel perwayangan tradisional ala Percy Jackson yang menceritakan kembali kehidupan Yunani kuno di kehidupan modern, atau seperti Vicky Sianipar yang mengaransemen lagu daerah menjadi lebih modern dan dapat dinikmati tidak hanya oleh kaum tua. Sehingga konten bernuansa pendidikan tersebut tidak membosankan, karena pendidikan bagi anak-anak (generasi) tidak hanya menjadi tanggung jawab para guru, dosen, dan orang tua, akan tetapi banyak faktor dan variabel pengiring yang memerlukan pembenahan.

Apalagi dengan diberlakukannya UU Sistem Televisi Berjaringan, maka di setiap daerah akan berdiri stasiun televisi yang menjadi jaringan, bukan sekedar stasiun relai dan stasiun anggota jaringan tetap membawa siaran nasional yang datang dari induk jaringan, tapi tetap memuat program lokal yang akan membuka lapangan kerja, mendorong iklan lokal, mendorong production house lokal, lembaga pendidikan dan pada akhirnya akan mendorong perekonomian serta akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

One thought on “Peran dan Pengaruh Konten Lokal dalam Proses Pendidikan

  1. kangen neh ma acaranya galileo yang di sctv itu…gak ada yang lain ya yang gantiinnya…

    btw,ane pertamax neh gan…

    kenapa ya kita telat mulu di banding singapura???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s